Tekan Prevalensi Stunting, TP-PKK Kotamobagu Gencarkan Sosialisasi bagi Remaja Putri dan Ibu Hamil

Kotamobagu, Terkini32 Dilihat

JEJAK.NEWS, KOTAMOBAGU – Dalam upaya nyata menurunkan angka gizi kronis dan memastikan tumbuh kembang generasi masa depan yang optimal, Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Kotamobagu menggelar sosialisasi intensif pencegahan stunting. Kegiatan ini menyasar kelompok krusial, mulai dari remaja putri, ibu hamil, hingga ibu balita.

Bertempat di aula rumah dinas Wali Kota, acara ini memfokuskan pada edukasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), pola makan bergizi, serta pentingnya sanitasi lingkungan. Rabu, 08/04/2026.

Ny. Rindah Gaib Mokoginta ketika menyerahkan bantuan kepada salah satu anak penderita stunting.

Selain edukasi, dilakukan juga penyerahan secara simbolis Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai langkah stimulasi gizi bagi anak-anak di Kotamobagu.

Dalam sambutannya, Ketua TP-PKK Kotamobagu, Ny. Rindah Gaib Mokoginta, SE., M.Ec. Dev., menekankan bahwa pencegahan stunting bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama yang dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga.

Dokumentasi kegiatan penyaluran bantuan stunting.

“Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan yang pendek, tetapi merupakan ancaman bagi perkembangan otak dan masa depan anak-anak kita,” ungkap Rindah.

Baca Juga: KLH Pantau Pengelolaan Sampah di Kotamobagu, Kondisi TPA yang Overload Jadi Perhatian Serius

“Melalui sosialisasi ini, kami ingin mengubah perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap pemenuhan gizi sejak anak masih dalam kandungan hingga usia dua tahun,” ujarnya.

Beliau juga memberikan perhatian khusus kepada para remaja putri sebagai calon ibu di masa depan. Menurutnya, mempersiapkan kondisi fisik dan kecukupan gizi sejak usia remaja adalah fondasi utama untuk memutus mata rantai stunting.

Stunting didefinisikan sebagai kondisi terhentinya pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama.

Kondisi ini mencakup Pertumbuhan Fisik, dengan ciri tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya. Perkembangan Kognitif, dapa dideteksi melalui keterlambatan cara berpikir dan kemampuan belajar.

Dokumentasi sosialisasi dan penanganan stunting.

“Stunting sebenarnya masih dapat dicegah asalkan orang tua mengambil langkah tepat dalam dua tahun pertama kehidupan anak. Jika anak mendapatkan asupan gizi dan perawatan yang layak pada periode emas ini, dampaknya akan sangat positif bagi kualitas hidup mereka di masa dewasa,” tambahnya.

Poin Utama Sosialisasi ini adalah untuk  Edukasi Gizi, dengan pemahaman menu yang seimbang dan nutrisi mikro untuk ibu dan janin. Fokus 1.000 HPK, dengan  mengawal kesehatan sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.

Selain itu, Sanitasi dan Kebersihan juga harus menjadi perhatian serius agar dapat mengurangi risiko infeksi berulang yang menghambat penyerapan gizi. Yang terakhir adalah deteksi dini dengan mengenal risiko tinggi dan tanda-tanda pada masa kehamilan.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan prevalensi stunting di Kotamobagu terus menurun secara signifikan, sejalan dengan visi menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan kompetitif.(Abo).

Tinggalkan Balasan