Satu Tahun Duet Weny-Rendy: Menjaga Nadi Pembangunan Kotamobagu di Tengah Badai Fiskal

Kotamobagu, Terkini36 Dilihat

JEJAK.NEWS, KOTAMOBAGU — Tepat hari ini, duet kepemimpinan Wali Kota Weny Gaib dan Wakil Wali Kota Rendy Mangkat genap berusia satu tahun. Di bawah nahkoda mereka, Kota Kotamobagu dipaksa melaju di tengah dinamika anggaran yang menantang keterbatasan fiskal.

Momentum satu tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan ruang refleksi mendalam mengenai bagaimana tata kelola pemerintahan tetap berjalan efektif meski dihimpit kebijakan efisiensi belanja daerah.

Strategi ‘Ikat Pinggang’ yang Terukur

Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Kota Kotamobagu, Sahaya Mokoginta, S.STP., M.E., mengungkapkan bahwa pemerintah daerah telah mengambil langkah-langkah luar biasa untuk memastikan pelayanan publik tidak kendor.

“Pemerintah melakukan penajaman skala prioritas dan rasionalisasi belanja yang kurang produktif. Intinya, perencanaan kami berbasis kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar keinginan,” ujar Sahaya.

Menurutnya, setiap program kini melalui filter ketat. Tujuannya satu: memastikan setiap rupiah memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga.

Lima Fokus Utama yang Tak Boleh Berhenti

Meski anggaran terbatas, Sahaya menekankan bahwa ada “garis merah” yang tidak boleh dikurangi kualitasnya. Lima sektor utama tetap menjadi prioritas pemerintah Weny-Rendy, yaitu:

Baca Juga: Perkuat Sinergi, Wali Kota Kotamobagu dan Kanwil HAM Bahas Agenda Strategis 2026

Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik: Birokrasi yang lebih responsif.

Infrastruktur Dasar: Pemenuhan kebutuhan fisik yang vital bagi mobilitas warga.

Ekonomi Kerakyatan & UMKM: Penguatan sektor mikro sebagai tulang punggung ekonomi kota.

Pengendalian Inflasi Daerah: Menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.

SDM Unggul: Investasi jangka panjang pada kualitas masyarakat Kotamobagu.

“Efisiensi anggaran bukan berarti mengurangi komitmen pelayanan, melainkan mendorong tata kelola yang lebih cermat, transparan, dan akuntabel,” tegas Sahaya.

Inovasi dan Kolaborasi sebagai Kunci

Di tengah keterbatasan, inovasi birokrasi menjadi “senjata” utama. Aparatur sipil negara (ASN) dituntut lebih adaptif dan solutif. Selain itu, sinergi antara DPRD, Forkopimda, sektor swasta, dan partisipasi aktif masyarakat dianggap sebagai kunci stabilitas pembangunan selama setahun terakhir.

Sahaya menutup refleksinya dengan optimisme bahwa satu tahun ini adalah fondasi untuk rencana pembangunan jangka menengah yang lebih kuat.

“Pemerintah menyadari masih banyak pekerjaan rumah. Namun, dengan integritas dan kerja bersama, tantangan fiskal ini bisa kita lalui secara bertahap demi kemajuan Kota Kotamobagu,” pungkasnya.(Abo).

Tinggalkan Balasan