JEJAK.NEWS, KOTAMOBAGU – Abad ke-14 saat Eropa sedang dilanda kelaparan besar, bersamaan dengan itu wabah hitam (black death) menjalar hingga Asia, Afrika, dan tempat-tempat lain di belahan dunia yang hampir memusnahkan peradaban manusia. Di suatu negeri yang jauh dari simpul-simpul budaya tersebut, negeri yang kelak menjadi Bolaang Mongondow modern, seorang perempuan bernama Salamatiti mencoba membangun peradaban dari lembah Dumoga dengan mendirikan sebuah sekolah khusus perempuan yang dinamakan Silaad.
Salamatiti ini yang kelak melahirkan seorang putra bernama Mokodoludut yang menjadi punu’ (gelar penguasa tradisional) pertama Bolaang Mongondow sebagaimana dicatat dalam Book Ouman Tumomongondow yang disalin oleh Wilken dan Schwarz dalam Mededeelingen van Wage Het Nederlandsch Zendelinggenootchap (1871). Meski tidak tercatat dalam lembaran sejarah, cerita tentang sekolah Silaad terekam dalam tradisi lisan orang Mongondow hingga kini.
Cerita bermula dari harapan Salamatiti yang ingin memberdayakan perempuan-perempuan di wilayah Dumoga agar memiliki keahlian seperti membuat kabela, membuat bobolit, membuat keranjang, dan kerajinan-kerajinan tangan lainnya yang hingga kini masih diakui sebagai barang kerajinan tradisional orang Mongondow. Contohnya Kabela yang masih digunakan dalam berbagai kegiatan adat seperti pernikahan, hadiah untuk tamu, dan kerajinan tangan unik asli masyarakat Mongondow. Sastra lisan seperti tolibag, aimbu dan puisi-puisi rakyat Bolaang Mongondow lainnya juga diajarkan di sekolah ini.
Belum ada bukti berupa catatan yang mendukung apakah di sekolah ini budaya baca tulis juga telah ada, namun cucu Salamatiti yang bernama Jajubangkai diketahui telah memiliki komunikasi baik dalam berbicara dan menggunakan bahasa melayu yang dia gunakan berkomunikasi dengan penerjemah Spanyol saat tiba di Buntalo sekitar awal abad ke-16.
Sekolah Silaad yang berdiri sekitar abad ke-14 boleh dibilang adalah sekolah pertama di Bolaang Mongondow bahkan juga di Sulawesi kala itu. Pun dengan Salamatiti yang merupakan guru pertama di Bolaang Mongondow yang mendirikan Silaad sebagai tonggak peradaban dan pendidikan tradisional di Nusantara.
Beberapa abad kemudian tidak lagi ada informasi yang bisa digali mengenai sejarah pendidikan di Bolaang Mongondow kecuali sedikit informasi bahwa Putra Loloda Mokoagow yang bernama Manoppo pernah dibawa oleh VOC untuk mengenyam pendidikan ke Ternate. Selesai menimbah ilmu di sana, Jacobus Manoppo kembali dan menjadi Raja Bolaang Mongondow mengantikan ayahnya Datu Binangkang pada tahun 1694. Jacobus Manoppo sudah tentu bisa membaca dan menulis menggunakan huruf latin dan berbahasa Belanda untuk berkomunikasi dengan VOC kala itu.
Sebagaimana Raja Jacobus Manoppo (1694-1731), Raja Manuel Manoppo (1778-1823) juga pernah ke Ternate dan belajar militer serta pemerintahan di sana. Manuel Manoppo tinggal cukup lama dan melatih bakat kepemimpinan, strategi perang, administrasi ketatanegaraan, bahasa, dan lain sebagainya. Ia kembali ke Bolaang Mongondow setelah Marcus Manoppo selesai menjadi Regent antara tahun 1772-1778. Manuel kembali ke Bolaang Mongondow dan menjadi raja setelah dibekali berbagai pengalaman dan kecakapan di Ternate.
Masih di abad ke-19 saat pengaruh kolonialisme mulai kuat di Nusantara. Sebuah sekolah dibangun di Bolaang oleh seorang guru misi bernama Jacobus Bastian. Sekolah yang didirikan masa itu masih sangat eksklusif, terbatas hanya untuk anak-anak orang Eropa yang bertugas di Bolaang (belum dibuka bagi masyarakat umum). Meski begitu, saat kedatangan Pdt. Hellendoorn pada tahun 1832, salah satu sarannya kepada Jacobus Bastian adalah memperluas jangkauan pelayanan pendidikan kepada pribumi minimal bisa menyentuh keluarga-keluarga bangsawan khususnya anak-anak raja. Sebelum rencana itu terwujud, Jacobus Bastian meninggal di Bolaang pada pertengahan abad ke-19.
Abad ke-20 saat Bolaang Mongondow telah sepenuhnya berada di bawah pengaruh Hindia Belanda, datang guru misi seperti Williem Dunnebier, Van Der Endt, J.H.D. Nijenhuis, A.G.V. Prehn-Boom (Mengajar di Holland. School), J. Nijenhuis-Evers, A.M.V.D. Endt-Mallee, Nettie V. D. Endt, dan Ny. Dunnebier-Demmenie (Istri W. Dunnebier) untuk membuka akses pendidikan di Bolaang Mongondow.
Baca Juga: Bolaang Mongondow: Negeri Pejuang Tanpa Pahlawan
Puluhan sekolah dibuka sejak tahun 1905 meski masih terbatas untuk kalangan anak-anak Eropa dan keluarga bangsawan kerajaan saat itu. Syarat yang diajukan juga cukup berat yakni calon siswa harus dibaptis menjadi pemeluk Kristen sebelum bisa mengenyam bangku pendidikan. Hal ini menyebabkan hanya sekitar 10% orang Mongondow yang bisa menempuh pendidikan yang dibangun oleh Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG), sebuah serikat misinoaris yang bergerak dibidang pendidikan.
Di tengah kondisi sulit tersebut, masyarakat Islam di Bolaang Mongondow melalui masjid tetap memberikan pendidikan kepada anak-anak muslim melalui pengajaran membaca Al-Quran. Anak-anak dibudayakan menulis dan membaca huruf arab yang bisa menjadi bekal mereka menulis dan membaca bahasa Melayu.
Majelis pembelajaran membaca Al-Quran di masjid dan rumah-rumah penduduk melahirkan guru-guru ngaji yang menjadi simbol perlawanan terhadap pola pendidikan kolonial yang diskriminatif. Orang Mongondow masa itu sebenarnya bukan buta huruf, mereka bisa membaca huruf arab meski tidak bisa huruf latin sebagaimana yang dicatat oleh Wilken dan Schwarz tahun 1866.
Pendidikan dan pengajaran di majelis-majelis inilah yang menjadi cikal bakal pendidikan Islam di Bolaang Mongondow yang menginspirasi Syarekat Islam (SI) pada abad ke-20. Sejak muncul di Bolaang Mongondow pada tahun 1920, salah satu misi utama SI adalah memperkuat SDM dengan membuka akses pendidikan untuk masyarakat akar rumput serta memperkuat ekonomi dengan memanfaatkan sumber daya alam (SDA) untuk lahan pertanian masyarakat. Pendidikan menjadi pondasi utama pembangunan, sementara ekonomi menjadi penopang kemandirian masyarakat agar benar-benar bebas dari kebodohan dan perbudakan kolonialisme Belanda.
Usaha untuk mewujudkan pendidikan yang merata bagi anak-anak Bolaang Mongondow coba diperjuangkan oleh Adampe Dolot dengan bertemu langsung Controleur Bolaang Mongondow, G.L.‘t Sas pada tahun 1925. Adampe Dolot meminta agar controleur memberikan izin pendirian sekolah umum yang terbuka bagi seluruh masyarakat tanpa syarat dan stratifikasi feodal. Namun hal itu tidak diizinkan oleh G.L.‘t Sas yang mentah-mentah menolak permohonan Adampe Dolot.
Tidak patah semangat, Adampe Dolot akhirnya berlayar ke Batavia dengan harapan dapat bertemu dengan Dr. Andries Cornelis Dirk de Graeff, Gubernur Jendral Hindia Belanda (1926-1931) demi mendapatkan izin membuka pendidikan inklusif di Bolaang Mongondow. Sebagai orang nomor satu di Hindia Belanda, sudah tentu sulit mendapatkan akses bertemu langsung dengan Gubernur Jendral.
Adampe Dolot akhirnya bertemu dengan A.P. Mokoginta yang memfasilitasinya bertemu dengan H.O.S. Cokroaminoto. Melalui Cokroaminoto A.P. Mokoginta dan Adampe Dolot bisa bertemu langsung dengan Gubernur Jendral dan akhirnya mendapat izin membuka sekolah non pembiayaan pemerintah (swasta) di Bolaang Mongondow. Adampe Dolot kemudian kembali ke Bolaang Mongondow dengan izin langsung dari Batavia yang kemudian menjadi dasar hukum pendirian Balai Pendidikan dan Pengajaran Islam (BPPI) Syarikat Islam di Molinow sebagai yayasan yang akan menaungi sekolah-sekolah Islam yang akan berdiri di Bolaang Mongondow.
Tahun 1926 berdirilah sekolah Islamiyah SI di Molinow dengan guru-guru antara lain L. Dettu, B. Imban, L. Iman, dan B. Hayat. Berikut pada tahun 1930 berdiri pula HIS Islamiyah yang didirikan oleh SI dan bahkan saat peresmiannya langsung dihadiri oleh Raja Laurens Cornelis Manoppo dan Controluer Bolaang Mongondow di tengah ribuan masa Syarekat Islam saat itu.
BPPI SI menjadi lokomotif dan pengerak roda zaman untuk pendidikan yang inklusif bagi orang Mongondow. Sejak era Salamatiti yang mendirikan Silaad pada abad ke-14, cita-cita pribumi Bolaang Mongondow untuk melahirkan sekolah modern akhirnya lahir kembali melalui BPPI SI pada abad ke-20.(*).







