Kotamobagu Matangkan RKPD 2027, Fokus pada Identitas Budaya dan Ketahanan Sosial

Kotamobagu, Terkini16 Dilihat

JEJAK.NEWS, ​KOTAMOBAGU – Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu resmi memulai penyusunan arah pembangunan daerah untuk tahun 2027. Langkah ini diawali dengan digelarnya Forum Konsultasi Publik Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2027 di Aula Rumah Dinas Wali Kota, Kamis (05/03/2026).

​Mewakili Wali Kota, Sekretaris Daerah (Sekda) Kotamobagu, Sofyan Mokoginta, membuka langsung forum yang mengusung tema strategis: “Penguatan Identitas Budaya dan Ketahanan Sosial untuk Pembangunan yang Inklusif.”

​Dalam sambutannya, Sofyan menegaskan bahwa dokumen RKPD harus disusun secara partisipatif dan transparan. Ia menekankan bahwa pembangunan di masa depan tidak boleh hanya menitikberatkan pada infrastruktur beton semata.

​”Pembangunan bukan hanya soal fisik, tetapi juga penguatan karakter daerah, nilai budaya, dan solidaritas sosial. Kita ingin memastikan pembangunan yang inklusif, berpihak pada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali,” ujar Sofyan.

​Tema ini merupakan turunan langsung dari visi-misi yang tertuang dalam Perda Nomor 1 Tahun 2025 tentang RPJMD Kota Kotamobagu.

​Baca Juga: Pemkot Kotamobagu dan PHBI Matangkan Persiapan Nuzulul Qur’an & Idul Fitri 1447 H

Sekda juga memaparkan evaluasi kinerja tahun 2025. Meski secara umum menunjukkan tren positif dan banyak melampaui target, Pemkot Kotamobagu mencatat beberapa poin yang perlu perhatian serius, di antaranya:

  • Sektor Ekonomi: Angka pengangguran terbuka yang masih di atas target serta kontribusi industri pengolahan terhadap PDRB yang perlu digenjot.
  • Kesejahteraan: Perlunya menekan angka kemiskinan secara lebih masif.
  • Tata Kelola: Penguatan nilai SAKIP, Zona Integritas, dan Monitoring Controlling and Surveillance for Prevention (MCSP).

​Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemkot menetapkan sejumlah program prioritas untuk tahun 2027 yakni:

  1. Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya: Mendorong UMKM memanfaatkan kearifan lokal sebagai nilai tambah ekonomi.
  2. Ekspresi Generasi Muda: Penyelenggaraan festival budaya sebagai ruang kreativitas pemuda.
  3. Pemberdayaan Sosial: Percepatan penanganan stunting, perlindungan kelompok rentan, dan moderasi beragama.
  4. Pelayanan Dasar: Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan yang merata.

​Menutup arahannya, Sofyan mengingatkan bahwa tantangan fiskal ke depan cukup berat, sehingga efisiensi anggaran menjadi harga mati.

“Kolaborasi adalah kunci. Pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat harus bergerak bersama agar setiap rupiah anggaran memberi manfaat nyata,” pungkasnya.(Abo).

Tinggalkan Balasan